Rahasia Di Balik Senyumannya
Maaf banget yha guys udah lama nggak ngepost artikel, Okay kali ini gue mau bagiin cerita karyaku sendiri guys... okay langsung saja...
Rahasia Di Balik
Senyumannya
Waktu
itu ia masih berumur sekitar 5 tahunan dan ia masih sangat kecil dan masih
suka-sukanya bermain kesana kemari dan mulai hari itulah setelah kepergian
Ayah-nya dan bahkan ia belum pernah merasakan apa itu kasih sayang dari seorang
Ayah, Dan Ibunya menikah dengan seorang pria yang sekarang menjadi Ayah
tirinya. Dan hari itu ia di rawat oleh Neneknya sedangkan Ibu dan Ayah tirinya
di negara Aceh Darussalam hingga sekian tahun. Sejak hari itu seorang anak
lelaki itu tak pernah tahu yang namanya kasih sayang dari Ayahnya bahkan
wajahnya pun ia belum sempat melihat walau hanya sekali saja dalam hidupnya.
Hari demi hari ia lewati dan ia mulai memasuki sekolah dasar di salah satu
sekolah yang ada di daerah Donohudan, hari-harinya ia lewati dengan perbedaan
dari anak-anak yang lain dimana yang lain setiap ke sekolah diantar oleh
Ayahnya atau Ibunya akan tetapi anak itu selalu beranngkat sendiri dengan
mengayuh sepeda ontelnya akan tetapi di waktu itu ia tak terlalu memikirkan hal
seperti itu dan tak pernah terlalu menganggap hal serius dalam kehidupannya
karena ia sedang asyik-asyiknya di zaman bermain dengan teman-temanya di
kampung. Hari-harinya ia lewati tanpa pantauan dari orang tuanya dan ia dirawat
Neneknya yang sangat sayang dengannya, Neneknya selalu membahagiakannya walau
hidup dalam kesederhanaan. Saat ia menginjak kelas 4 ia melihat berita di
televisi bahwa terjadi tsunami dahsyat di negara Aceh tempat orang tuanya dan
ia langsung menangis dan menghampiri Neneknya dan menangis tanpa henti sebelum
ada kabar dari orang tuanya di Aceh, setelah di telfon kabar orang tuanya dan
mendapat kabar baik-baik saja dari orang tuanya ia baru bisa berhenti menangis.
Di akhir tahun orang tuanya pulang untuk menjenguk anaknya yang ada di Jawa dan
menanyakan apakah mau ikut ke negara Aceh untuk menetap disana dan sekolah
disana akan tetapi ia tak mau dan lebih memilih tinggal di Jawa bersama
Neneknya yang ada di Jawa tapi ia juga antara sedih dan senang karena di saat
orang tuannya pulang ia sangat senang karena lega melihat orang tuanyab pulang
dalam keadaan yang baik-baik saja dan di satu sisi ia sangat sedih karena ia
harus berpisah dengan orang tuanya karena harus balik ke Negara Aceh dan saat
orang tuanya beranjak meninggalkannya untuk terbang ke Aceh kembali ia sangat
sedih terlebih pada Ibunya karena ia sangat menyanyanginya, ia tak bisa
berhenti menangis saat Ibunya sudah terbang dan ia harus kesepian lagi di Jawa
bersama Neneknya dan teman-temanya di kampung. Hari demi hari mulai berlalu dan
ia sudah menginjak kelas 6 dasar dan mendekati Ujian Nasional dan saat itulah
Ibunya pulang dan memutuskan untuk tinggal di Jawa karena anaknya tak mau ikut
pindah ke Aceh dan hari Ujian mulai berlangsung pada hari itu dan ia tak
belajar sama sekali karena ia sangat senang Ibunya pulang dari Aceh dan
memutuskan untuk tinggal di Jawa bersamanya akan tetapi Ayah tirinya sepertinya
tak suka padanya dan memperlakukannya seperti orang asing padanya, Ujian
Nasioanal telah berlalu dan ia lalui dengan mudah karena ia selalu belajar tiap
pulang sekolah walaupun ia tak belajar saat hari H Ujian Nasional pada hari
itu, Dan tibalah waktu pengambilan nilai Ujian Nasioanal dan nilai itu diambil
oleh sanak saudara perempuannya dan ia mendapat nilai tertinggi kedua setelah
temannya dan ia mendapat hadiah dari gurunya karena nilainya memuaskan dan
pertama kalinya ia masuk Juara 3 besar akan tetapi orang tuanya menanggapi hal
itu dengan biasa saja terlebih lagi Ayah tirinya, hari-hari yang ia lewati
sebelum mencapai itu ia sangat terluka hatinya atas perlakuan Ayah tirinya
sendiri dan ia hanya bisa menangis di kamar tanpa ada yang tahu terlebih pada
Ibunya ia tak mau membuat Ibunya sedih karena melihatnya menangis, ia selalu
menyembunyikan kesedihannya di balik Ibunya dan Ayah tirinya tak pernah mengakui
kalau anak itu ada karena merasa malu karena dulunya ia sangat bodoh bahkan
pernah mendapat peringkat paling bawah di kelas ia tak pernah menganggap dia
ada akan tetappi anak itu tak pernah menyerah berusaha dan mulai di bangku
kelas 4 dasar ia meraih Kejuaraan dari mulai menyanyi lagu daerah, Lomba
Olahraga, Lomba Melukis ia ikuti dan selalu mendapat juara1 dan ia baru diakui
ada dalam hidupnya( Ayah tirinya ) ia harus menahan rasa sakitnya di hati dan
menelan rasa pahit yang dirasakan dalam hidupnya akan tetapi itulah yang
membuatnya kuat karena ia mempunyai tekat untuk membahagiakan Ibunya untuk
memberangkatkan ke Tanah Suci Mekkah itulah cita-citanya.
Saat
itu adalah pendaftaran memasuki sekolah menengah pertama ( SMP ) ia berniat
memasuki ke sekolah negeri akan tetapi ditentang oleh Ayah tirinya dan tak
memperbolehkannya untuk masuk ke Sekolah Negeri, dan saat itu ia pulang ke
rumah Neneknya dan menangis karena ia dilarang untuk sekolah di sekolah negeri
dan Neneknya mencoba menenangkannya dan bilang ke dia kalau ia yang akan bicara
dengan orang tuanya terutama pada Ayah tirinya lalu ia pulang ke rumah dan sore
harinya Neneknya datang dan mulai berbicara pada orang tuanya terlebih pada
Ayah tirinya kenapa melarang cucunya sekolah di sekolah negeri padahal nilainya
bagus lalu sampai neneknya bertengkar dan pada akhirnya anak itu
diperbolehkannya ( Ayah tirinya ) bersekolah di sekolah negeri dan Neneknya
memandang bahagia padanya karena ia mengabulkan permintaan cucunya dan
sekaligus itu adalah kado terakhir dari Neneknya karena di saat ia memasuki
hari pertama masuk sekolah di Sekolah Menengah Pertama itu beberapa hari
kemudiannya Neneknya meninggal dunia dan ia tak ada yang mengabari kabar duka
itu sama sekali akan tetapi anak itu mempunyai firasat yang aneh dan selalu
memikirkan Neneknya dan saat sepulang sepulang sekolah ia langsug menuju ke
rumah neneknya dan betapa terkejutnya dan hatinya sangat hancur ketika tahu
kalau ada bendera merah di depan rumah neneknya dan ia tanpa perduli pada
sepedanya ia langsung turun dan lari ke rumah neneknya dan ia menangis histeris
karena tak rela ditinggalkan oleh neneknya yang ia sayangi, Neneknya itu sudah
seperti Ibunya yang sangat menyanyinya dan selalu memberinya apa saja asal
cucunya bahagia dan bisa tersenyum dan hari itulah hatinya benar-benar hancur
dan ia hampir pingsan karena terlalu sedih dan kehabisan tenaga karena
menangis. Ia terus menangis walaupun di pelukan Ibunya dan ia selalu mengawasi
keranda Neneknya sebelum dikuburkan ia lalu duduk sambil menyandarkan kepalanya
pada tembok dan memandangi keranda itu sebelum diangkat kerandanya, ia tak bisa
menahan tangisnya saat keranda mulai diangkat dan dibawa ke kuburan, ia tidak
diperbolehkan ikut karena keadaan dirinya sangat lemah dan pucat karena menangis.
Ia terus saja menangis walaupun orang-orang yang dari kuburan sudah pulang
melayat ia tak percaya bahwa neneknya sudah tiada dan meninggalkannya sebelum
ia bisa membahagiakan Neneknya itu.
Bersambung......
Komentar
Posting Komentar