Dongeng " Bocah Malang Seorang Pangeran



Bocah Malang Seorang Pangeran

Di Suatu Desa terpencil yang jauh dari perkotaan yang belum terjagkau aliran listrik seperti di perkotaan ada seorang bocah yang sangat malang yang hidup bersama dengan kakeknya  yang sudah renta. Setiap harinya ia membantu kakeknya mencari ikan di sungai sambil mengumpulkan kayu bakar dan rerumputan untuk dijual ke tetangga yang membutuhkannya, dia sangat menyayangi kakeknya itu oleh karena itu ia lebih memilih untuk mebantu kakeknya daripada bermain dengan teman-temannya di kampung. Suatu ketika saat ia mencari kayu bakar di hutan ia secara tak sengaja menemukan sebuah kotak tua yang terkunci di bawah akar pohon tua yang sudah mengering. Ia mencoba membuka kotak yang ia temukan akan tetapi ia tak bisa membukanya maka dari itu ia membawanya pulang kerumah dan ditaruh di bawah bantalnya karena ia takut untuk membicarakan hal itu dengan kakeknya karena takut dikira mencuri.
Hari esoknya ia membawa kotak itu lagi ke hutan sambil mencari kayu seperti hari biasanya, setelah kayu yang dikumpulkannya cukup banyak lalu ia beristirahat di bawah pohon tua tempat ia menemukan kotak yang kemarin ia temukan dan hal yang sama terulang lagi ia menemukan sebuah kertas yang berada di dalam botol, kemudia ia membukannya dan ia mencoba membaca tulisan yang ada di dalam kertas itu akan tetapi ia tak bisa membacanya karena ditulis dengan menggunakan bahasa jawa kuno maka ia membawa kertas itu pulang bersama dengan kotak yang ia temukan kemarin saat mencari kayu bakar di hutan. Setelah sampai di rumah ia mencari kakeknya dan ternyata kakeknya belum pulang dari sungai untuk mencari ikan, lalu ia putuskan untuk menunggu di depan rumah sambil makan nasi dengan lauk seadanya. Setelah beberapa saat kakeknya pulang sambil membawa ikan hasil tangkapannya dari sungai yang cukup banyak dan bahkan sisa ikan yang dijualpun masih cukup untuk lauk makan malam nanti. Setelah beberapa saat setelah kakeknya istirahat ia mulai berbicara pada kakeknya dengan pelan-pelan dan menjelaskan apa yang temukan kemarin dan tadi saat mencari kayu bakar, lalu ia juga menceritakan tentang kertas yang ia temukan akan tetapi tak bisa ia baca karena bahasa yang digunakan yaitu bahasa jawa kuno, lalu ia menunjukkan ke kakeknya dan ternyata kakeknya tahu bahasa yang tertulis lalu kakeknya mulai membaca apa yang ada di lembar kertas yang ia temukan, perlahan-lahan kakeknya mulai membaca dan kertas itu dan isi dari kertas itu mengenai hal yang berhubungan dengan kotak yang ia temukan kemarin, mulai dari cara membuka dan hal-hal yang berkaitan tentang kekuatan yang ada pada tongkat yang ada di dalam kotak itu akan tetapi tongkat itu tidak bisa digunakan dengan sembarangan dan ia harus menemukan air kesucian yang ada dibawah Lembah Ular yang terletak di dekat gunung berapi, dengan hanya itu ia dapat menggunakan tongkat yang ia temukan.
Malam harinya ia pamit kepada kakeknya untuk mencari air kesucian itu, awalnya kakeknya melarang ia untuk pergi ke Lembah Ular itu tapi bocah itu memohon kepada kakeknya agar diizinkan pergi mencari air kesucian itu, dan keesokan harinya barang-barang yang ia persiapkan semalam untuk pergi ke Lembah Ular itu ia ambil dan yang ia bawa hanya kertas petunjuknya dan kotak yang ia temukan.
Lalu ia pamit ke kakeknya, akan tetapi sebelum ia pergi ia diberikan sesuatu oleh kakeknya yaitu sebuah cambuk yang dibungkus dengan kain merah dan beberapa ubi rebus untuknya. Kakeknya berpesan kepada bocah itu gunakan cambuk itu disaat kamu dalam keadaan bahaya, hanya itu yang diucapkan oleh kakeknya lalu ia mulai melangkah meninggalkan rumahnya, langkah demi langkah ia susuri untuk menuju Lembah Ular.


Saat perjalanan ke lembah itu tiba-tiba ada seekor babi hutan yang menghadangnya dan mencoba menyerangnya,

lalu ia berlari sekuat tanaga dari kejaran babi hutan yang hendak menyerangnya, saat ia mencoba menghindar dari kejaran babi hutan yang akan mengejarnya ia tiba-tiba teringat akan cambuk yang diberikan kakeknya waktu akan meninggalkan rumah untuk ke Lembar Ular dan dengan seketika langsung membuka tas nya dan mengambil cambuk yang ia bawa, ia ragu akan cambuk yang akan digunakan untuk mengusir babi hutan itu tapi dengan keyakinan yang diberikan kakeknya bahwa cambuk itu akan berguna saat dalam bahaya, ia lalu mencoba menyerang babi hutan yang menyerangnya dengan cambuk itu dan dicambuklah babi itu dengan cambuk yang ia pegang dan saat mencambuk babi itu seperti mencambuk menggunakan petir babi itu mati dan gosong dengan sekali cambukan. Ia juga terheran kenapa bisa begitu lalu ia duduk sebentar sambil memikirkan mengapa bisa begitu dan sambil istirahat karena lelah setelah dikejar-kejar babi hutan yang menyerangnya tadi. Setelah beberapa saat ia melanjutkan perjalanannya kembali ke Lembah Ular untuk mencari air kesucian itu dan saat perjalanan ia merasa lapar sekali lalu ia teringat kalau ia dibawakan bekal oleh kakeknya beberapa ubi rebus yang ia bawa, ia lalu mengeluarkan ubi itu dan hendak memakan ubi rebus itu tapi tiba-tiba ada seorang nenek
tua yang meminta-minta datang menghampirinya dan mengatakan kalau ia kelaparan dan dengan perasaan iba dan kasihan pada nenk itu ia lalu memberikan ubi rebus yang ia bawa dan hendak ia makan walaupun ia sendiri juga lapar tapi ia tak tega melihat kakek itu kelaparan maka dari itu ia lebih memberikan ubi itu pada nenek itu. Lalu ia nenek itu mengatakan “ Terimakasih anak baik” bocah itu lalu berkata “ sama-sama nenek” setelah itu ia lalu melanjutkan perjalanannya kembali tapi ia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang dan ternyata nenek itu sudah tak ada lalu ia hanya kaget tapi ia lalu melanjutkan kembali perjalanannya ke tujuan utama. Ia lalu melihat sungai di saat perjalanannya dan ia ingin bersih-bersih sambil minum air, lalu ia menghampiri sungai itu dan saat hendak minum air tiba- tiba ada buaya putih yang amat besar di pinggir sungai lalu ia kaget dan ketakutan karena waktu itu buaya itu membuka mulut yang sangat lebar lalu ia menggumam “

Bagaimana ini, bagaimana kalau buaya itu marah dan memakanku “ dan betapa terkejutnya ternyata buaya itu bisa berbicara dan mengerti apa yang diucapkan bocah itu dan buaya itu berkata “ Tenang saja wahai manusia aku tak akan memakanmu karena kamu anak baik” ia kaget dan mencoba menjawab sebisa mungkin “ Kenapa…???” lalu buaya itu menjawab “ Kamu adalah manusia yang telah ditakdirkan dan yang ada di ramalan wahai manusia” lalu ia berkata “ Aku tak mengerti apa yang kamu ucapkan wahai buaya, siapa yang ditakdirkan wahai buaya saya hanyalah cucu dari kakekku” lalu ia buaya itu menjawab lagi “ Pada waktunya nanti kau akan mengerti wahai manusia “ lalu ia hanya dia dan melanjutkan perjalanannya kembali.

Setelah sampai di Lembah Ular ia bingung akan apa yang harus ia lakukan lalu ia mmembuka gulungan kertas yang ia bawa sebagai petunjuk perjalanannya lalu ia melihat nenek yang ia berikan ubi rebus waktu perjalanannya kemari, lalu ia bertanya pada nenek itu “ kok nenek bisa sampai sini Nek disini bahaya Nek banyak hewan buas yang berkeliaran “ dan nenek itu menjawab “ Nenek tahu kamu kesini mencari air kesucian bukan…? “ dan bocah itu hanya menganggukan kepalanya saja.
Lalu nenek itu berubah menjadi seorang bidadari yang sangat cantik dan bersinar dan perlahan menghampiri bocah itu sambil membawa sebuah botol. Lalu nenek yang berubah menjadi  bidadari yang cantik rupawan memberikan botol itu pada bocah kecil itu dan mengatakan “ Ini yang kamu cari Anak Muda, minumlah air yang ada pada botol itu dan sebagian tuangkan pada kotak yang berisi tongkat itu dan sisanya untuk memandikan tongkat yang ada didalamnya “ lalu ia segera melakukan apa yang akan yang dikatakan bidadari itu setelah semuanya sudah dilakukan lalu ia disuruh mandi telaga yang ada disitu dan saat mandi ia berubah menjadi pangeran yang sangat tampan dan kulitnya pun berubah total dari yang semulanya hitam menjadi putih dan bersinar lalu setelah itu ia mengambil tongkat yang ada dalam kotak dan munculah sinar yang sangat terang dan mengubah pakaian yang dikenakan bocah itu menjadi pakaian bak Pangeran Tampan dari negeti seberan.

Lalu bidadari itu menghampiri anak muda itu dan memberikan wasiat yang dituliskan sejak zaman dahulu, yang berisi akan ada seorang anak muda dari bumi untuk memerintah kerajaan yang ada di negeri kayangan. Lalu bocah itu berkata kalau ia tak mau meninggalkan kakeknya di bumi sendirian, sebelum ia selesai bicara datanglah dua ekor Pegasus dari langit 


ternyata kakeknya juga seseorang dari kerajaan dari kayangan setelah itu datanglah Pegasus yang datang dari kayangan dan hiduplah anak muda itu di negeri atas awan bersama kakeknya.



By: wahyudi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anugrah-Mu

Tangga Kesuksesanmu